Sabtu, 27 Desember 2014

Ucapan buruk jadi nyata.

| | 0 komentar

Kategori umur: 5-10 Tahun

Disuatu kota metropolitan...
Tinggallah seorang anak bernama Alif.

Suatu hari, Alif benar benar merasa kesepian sekali. Karena Alif belum cukup umur untuk sekolah, jadi Alif tidak memiliki banyak teman bermain. Anak seumurannya biasanya hanya bermain di taman bermain saat pagi hari saja.

"Sore yang sepiii sekali..."ujar Alif.

Kemudian, Alif memutuskan untuk bermain dengan teman yang lebih dewasa.

"Lihat, mereka sedang ramai di lapangan!" Ujar Alif Bahagia.

Saat Alif mendatangi tempat itu, ia mendengar berbagai kata kasar yang diucapkan anak-anak itu. Ada yang bermain bola lalu mengejek temannya.
Ada yang bermain kartu lalu memukul temannya.
Alif berpikir, mungkin itulah cara bergaul anak-anak yang gaul.
Ia pun mulai mencontoh perilaku tersebut.

Saat bermain kartu dengan teman Alif di pagi hari, Alif mendapati Dino bermain tidak benar. Dino salah langkah. Lantas saja Alif berkata..
"Kamu bodoh ya... bukan begitu cara bermainnya!"

Dino merasa tersinggung, lalu ia mengeluarkan sebuah buku. Dino berkata "Aku tidak bodoh, aku sudah bisa membaca dan menulis. Ini buktinya, buku ini sudah ku baca dan ku jawab pertanyaannya!"

Alif pun kaget, anak yang sudah bisa membaca dan menulis kan tidak bodoh.
Ibu yang mendengar perkelahian itu datang menghampiri.

"Alif, kita tidak boleh berkata yang buruk. Seandainya perkataan adalah doa, dan doa yang buruk menjadi kenyataan, tentu bukan hal yang menyenangkan, kan? Memang nya Alif mau berteman  dengan orang bodoh, kan lebih enak punya teman pintar..."
Alif pulang dan merenungkan kata-kata Ibu.

Suatu hari Alif sedang berjalan, tiba-tiba ia bersenggolan dengan seorang anak.
Lalu Alif memaki, "dasar monyet!"

Dan tiba-tiba si anak berubah menjadi monyet, ia lalu mencakar-cakar Alif. Alif lari ketakutan.

source

Lalu, ibu dari anak tadi datang menghampiri si anak yang berubah jadi monyet, sang ibu menangis sedih. Ia sedih sekali anaknya yang ia sayangi menjadi monyet.

Alif merasa bersalah, mungkin tidak seharusnya ia berkata kasar.

Saat Alif berbalik dan ingin meminta maaf, Alif tersandung batu dan....
"Aaaaaaw!!!"

Alif terbangun, ternyata itu cuma mimpi!

Tetapi, mimpi itu sangat berkesan. Alif juga merasa mengerikan jika kata-kata kasar bisa menjadi kenyataan.

Jika berkata bodoh, maka jadi bodoh.
Jika berkata monyet, maka jadi monyet.

Alif tersenyum, ia paham sekarang.

Tidak ada baiknya berkata kasar, selain menyakitkan hati orang lain, juga membuat orang sedih.
Mulai sekarang, jika sedang kesal Alif akan tetap berkata hal yang baik.

Jika Dino salah lagi saat main kartu, maka Alif akan menegurnya dengan..
"Dino, bukan begitu cara bermainnya, tapi begini..."

Jika ia disenggol saat berjalan, Alif akan berkata..
"Maaf, berhati-hati yuk saat berjalan "


Dengan begitu, tidak ada yang akan berubah menjadi bodoh ataupun berubah menjadi monyet yang suka mencakar.


Read more...

Rabu, 17 Desember 2014

Bapak Tukang Sampah

| | 0 komentar

Kategori Umur: 5-7 Tahun


Hari senin adalah hari yang menyenangkan. Setelah berlibur dihari Minggu, ini adalah saatnya bercerita tentang kegiatan hari libur kepada teman di Sekolah.

Lihat, lah...  Teo, si jagoan Ibu Mia sudah siap berangkat ke sekolah. Ia mencium tangan bundanya untuk pamit pergi ke sekolah. Teo murid kelas 4 SD.

"Assalamualaikum, bunda. Teo Pamit pergi ya..." ucap Teo dengan semangat sambil melambaikan tangannya pada bunda.

Sekolah SD Teo dekat sekali dengan komplek perumahan, jadi Teo lebih senang berjalan kaki bersama teman-temannya dari pada diantar Ayah ke Sekolah dengan mobil.

Nanti, kalau Teo sudah percaya diri, sudah kelas 5 SD, Teo akan diizinkan bunda untuk naik sepeda sendiri ke Sekolah.

Diperjalanan menuju sekolah, Teo bertemu Andy. Andy adalah teman sekelas Teo disekolah.

"Hi Andy !" sapa Teo dengan girang.
"Hi Teo !" balas Andy dengan senyum semangat.

"Hari ini kamu semangat sekali, Teo! Ada apa? cerita dong!" tanya Andy.
"Setiap pagi kan kita memang harus semangat Andy! Hehehe" jawab Teo.

Ditengah perjalanan,sebuah Truk Sampah tiba-tiba lewat  dan berhenti agak jauh dari Teo dan Andy.
Serentak, mereka menutup hidung.


source

"Uh, bau sekali." Andy mengeluh. Suaranya jadi lucu sekali, sebab Andy berbicara sambil menutup hidung.
"Iya, Andy ayo kita lari saja!" Ajak Teo.

Ketika melewati mobil Truk Sampah, seorang bapak pengemudi menegur Andy dan Teo.

"Halo anak-anak. Mau pergi sekolah ya? Semangat ya!" ujar si Bapak Tukang Sampah sambil tersenyum ramah.

Karna sudah terlanjur kesal sebab Truk sampah baunya menyengat sekali, Teo dan Andy buang muka sambil masih menutup hidung mereka.

"Huh, kenapa musti lewat pagi-pagi begini sih truk sampahnya?" tanya Andy dengan kesal.
"Iya, membuat buruk suasana hati saja. Awas saja kalau besok muncul lagi" ujar Teo dengan nada marah.

Keesokan harinya, Teo dan Andy sedang berjalan menuju sekolah, namun kali ini Truk Sampah tak mucul. Teo dan Andy senang sekali. Begitu juga dengan hari berikutnya, hari berikutnya dan hari berikutnya.

Sudah berhari-hari Truk Sampah tidak melewati jalan dan mengangkut sampah. Banyak warga yang berkumpul dengan menggunakan masker di tepi Jalan. Mereka memakai masker karena bau sampah yang menumpuk karena tidak kunjung diambil oleh Truk Sampah.

Teo dan Andy yang sedang berjalan menuju sekolah pun mencium bau sampah dan menghampiri kerumunan warga. Teo menghampiri seorang bapak untuk bertanya.

"Ada apa pak, kenapa ramai sekali?" tanya Teo.
"Begini, nak. Truk Sampah tidak kunjung datang sudah 4 hari, sampah sudah menumpuk sekali. Baunya mengganggu dan khawatir menyebabkan penyebaran penyakit." Ujar  si Bapak.

Andy mengangguk, sementara Teo, Ia tiba-tiba saja merasa bersalah telah membenci Bapak Tukang Sampah dan Truk Sampahnya.

Sekarang ia menyadari bahwa Bapak Tukang Sampah sangatlah penting, tidak semestinya ia dibenci. Tugasnya sangat mulia, mengangkut sampah-sampah dan menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat.


"Kenapa kamu murung, Teo?" tanya Andy. Kemudian, Teo menjelaskan sehingga Andy ikut merasa bersalah atas sikap mereka terhadap Bapak Tukang Sampah beberapa hari yang lalu.

Keesokan harinya saat Teo dan Andy berjalan menuju sekolah, sebuah Truk Kuning lewat.

Benar! Itu adalah Truk Sampah milik Bapak Tukang Sampah. Andy dan Teo senang sekali akhirnya mereka melihat Truk Sampah lagi.

"Andy, lihat! Itu Bapak dan Truk Sampah!" teriak Teo sambil menepuk pundak Andy.
"Benar, wah syukurlah akhirnya Bapak Tukang Sampah datang lagi," ujar Andy menimpali.

Saat Bapak Tukang Sampah membunyikan klakson dan melambaikan tangan sambil tersenyum menyapa, Andy dan Teo membalas dengan tersenyum dan ikut melambaikan tangan.

Teo dan Andy merasa senang akhirnya Bapak Tukang Sampah hadir kembali dan dapat membantu masalah menangani sampah sehingga perumahan mereka sudah terbebas dari masalah bau dan penyakit dari sampah.

"Andy, mungkin lain kali kita tak hanya melambai saat bertemu Bapak Tukang Sampah! Bagaimana kalau kita hormat saja, karena pekerjaan Bapak Tukang Sampah sungguh mulia!" usul Teo.

"Haha, boleh! Pasti Bapak Tukang Sampah akan heran, tuh!" tanggap Andy.

Dan mereka pun tertawa, ya, mereka menertawakan kesalah pahaman mereka tempo hari dan berjanji tidak akan berburuk sangka pada Bapak Tukang Sampah atau Tukang-Tukang Pekerja Lainnya.

Nah, Adik-adik, semua pekerjaan halal itu mulia, terutama pekerjaan yang melayani masyarakat seperti Dokter, Satpam, maupun Bapak Tukang Sampah!










Read more...